Hai. I'll back.
Kali ini gue lagi mau bahas tentang teman yang benar-benar teman sama teman yang hanya sebatas teman. Real friend? Or Fake friend?
Sebenarnya kalau boleh jujur, gue bukan orang yang mudah mengadaptasikan diri gue terhadap orang-orang asing yang mencoba masuk ke kehidupan gue. Gue juga bukan orang yang dengan terbukanya bisa menunjukkan jati diri gue. Gue emang bicara sama orang tapi bukan orang asing yang berada di luar dari ruang lingkup gue. Maksudnya gimana ya? Susah buat menjelaskan diri gue sebagai seorang cewek heboh sana sisi, wara wiri sesuka hati, tapi punya sisi pendiam yang kadang nggak seorang bisa ngerti perasaan gue.
Kalau bicara soal fake friend, gue nggak perlu banyak komentar. Hidup kita emang harus ketemu sama orang-orang kayak mereka. Ada saat senang tapi untuk susah, mereka bakalan jarang ada di sisi kita. Mereka kayak orang yang nggak punya kepribadian gitu. Mereka akan menganggap kita sahanat di kala butuh dan musuh di kala dia nggak butuh. Seperti yang teman gue rasakan.
Sebut saja namanya Intan. Entah gue berasa jahat karena udah nulis ini atau enggak, tapi gue cuman mau beri pelajaran aja sama yang lain atas pengalaman kita. Biar kalian semua nggak terjebak lagi sama yang namanya Fake Friend. Biar kalian juga bisa menempatkan diri dengan benar.
Back to Intan. Gue nggak tau apa yang terjadi sama dia, cuman ya gitu. Beberapa hari ini, keadaan dia benar-benar di luar kendali dia. Sakit komplikasi kalau kata kunyuk gue. Dia pingsan hampir di setiap perkuliahan baik dalam jam kuliah atau pas istirahat.
Ceritanya sih gini, dia udah pingsan tuh kan pas istirahat makan dia. Kirain dia udah sehat pas dia balik lagi ke kampus. Eh, pas pulang ngampus, selesai gue dapat surprise dari Kelompok Kecil, dia sakit lagi. Mau nggak mau, suka nggak suka, gue sama dua kunyuk plus Bodats kesayangan gue nemani dialah karena dia nggak ada teman. Dan kalian tau, kedua teman yang selalu dia sebut sahabat adalah orang yang akhirnya meninggalkan dia di saat dia belum sehat. Sedangkan kita -yang bukan teman dia- setia mendampingi dia sampai orangtuanya menjemput.
Dari kejadian tersebut, gue sadar satu hal : Bahwa teman yang benar-benar teman adalah mereka yang ada saat suka maupun duka kita. Dan beruntung gue dapat teman yang seperti itu. Teman yang nggak hanya sebatas teman. Kita klop tapi kita nggak mencap dia milik kita.
Seperti kata bodats, "Dia, orang yang kita anggap teman atau sahabat bukanlah hak milik kita. Bahwa dia juga punya orang lain."
So, jangan jadikan teman kita itu hak milik, jangan jaim, tunjukkan kamu yang sesungguhnya seperti apa. Karena teman yang baik akan menerima kamu apa adanya bukan ada apanya.
Sampai jumpa di catatan selanjutnya.
Bye