Kamis, 11 Mei 2017

INDONESIAKU

Hari ini, satu masa di mana aku merasa bahwa Indonesiaku tak memiliki arah. Saat di mana aku melihat, kesalahan yang sama kembali terjadi. Indonesiaku tak belajar dari kegagalan. Mereka terus berjalan diantara para pemimpin yang haus akan jabatan. Mereka terus berlari mengejar mimpi fana yang menghantui langkahnya. Lalu bagaimana Indonesia bisa maju? Pantas saja Indonesiaku hanya berada di satu langkah yang sama. Langkah yang tak pernah berubah seiring aku berjalan mengikuti arus. Indonesiaku patut berduka. Berduka atas hukum yang kian hari semakin membingungkan. Hukum yang kian hari semakin menutup pintu kebenaran.

Aku bukan terlahir sebagai anak Hukum bukan juga anak yang terlalu mengerti tentang politik, tapi aku pernah belajar tentang itu semua. Pernah belajar dan akhirnya mengerti mengapa aku harusnya belajar tentang itu. Tapi sepertinya sekarang pelajaran itu menjadi sia-sia. Bhinekka Tunggal Ika, Kewarganegaraan, Pancasila kita, perundang-undangan kita, semua terasa sia-sia. Bahkan aku merasa bodoh telah mempelajarinya selama ini. Toh, Indonesia secara perlahan dan pasti mulai mengaburkan setiap pemahamanku.

Dimulai dari kisah seorang pemimpin hebat yang sukses di negeri orang hingga akhirnya seorang pemimpin baru yang lahir hanya dengan memikirkan kemajuan negerinya. Tapi keduanya sama. Sama-sama tak dihargai di negerinya sendiri. Ditindas, diperlakukan tidak adil, dan dipandang remeh hanya karena sebuah perbedaan. Toh, Indonesia tetap diam dan tak belajar dari kesalahannya.

Aku bangga. Setidaknya walaupun aku tak pernah merasakan masa kepemerintahannya dan aku bukan anak Jakarta, tapi aku bangga. Aku bangga pernah mengenalnya melalui ribuan berita yang mengangkat namanya. Caranya memimpin sungguh unik, dan terlebih, ia tak memimpin untuk meraup kesenangan atas dirinya sendiri. Ia memikirkan rakyatnya, orang asing yang mempertaruhkan hak pilihnya untuk mendapatkan perhatian. Ia memikirkan rakyatnya yang terus menghinanya walau apa yang ia lakukan bukan untuk kepentingannya sendiri. Ia, pemimpin yang membuatku merasa bangga.

Pernahkah kalian berpikir bahwa itu terlalu berlebihan? Hanya karena persepsi orang yang berbeda, ia menanggung beban begitu berat. Hanya karena nyatanya ia ingin menyadarkan orang lain tapi justru ia yang disadarkan bahwa percuma untuk melakukan hal itu. Hanya karena ia kaum minoritas yang punya prestasi banyak dan berkelas dan akhirnya menyemburkan rasa dengki dari pemimpin yang haus akan jabatan.

Kalau aku boleh jujur, ada masalah yang lebih besar yang harus kalian pecahkan selain mempermasalahkan sesuatu yang kalian buat-buat sendiri. Mayoritas merasa mereka terusik oleh ucapannya, lalu bagaimana kaum minoritas yang juga mendapatkan perlakuan sama? Apa kalian menindaklanjutkannya? Atau kalian diam dan hanya memandang dalam senyum kulum penuh ejek? Entahlah. Aku rasa kalian perlu mempertimbangkannya. Jika hukum tidak bisa ditegakkan, maka jangan salahkan kami jika suatu hari nanti Indonesia menjadi negeri yang penuh dengan kejahatan. Karena Indonesia sudah jahat dengan cara yang seperti ini.

Jumat, 03 Juni 2016

Event Menulis Amal

Info teknis Event amal 1 Juni -15 Juni
.
Beritahukan pada dunia perasaan anak-anak di balik tembok kenistaan itu. Beritahukan pada dunia perasaan kamu jika membayangkan lahir menjadi mereka. Beritahukan pada semua orang, karena banyak yang berusaha menyembunyikan kejahatan puluhan tahun di zaman kebebasan ini. Tulis apa yang ingin kamu tulis. Tulis apa yang muncul di dalam hati itu. Tuluskan jari, tuluskan kata-kata. Semoga dunia bisa lebih tau dengan teriakan-teriakan kita dalam buku bersama ini.
Berikan aksi nyata. Membeli buku ini, sama saja dengan sedekah nyata.
100 % royalti dari penjualan buku ini akan diserahkan kepada organisasi resmi yang akan mengantarkannya langsung ke Palestina. Di bulan ramadhan yang berkah. Di waktu yang tepat untuk berguna bagi orang lain.
Tulislah kawan-kawan! Tulis perasaan itu. Perasaan peduli pada saudara-saudara kita yang menjerit tiap petang dan malam. Menjerit rumahnya dirubuhkan, tanahnya digerogoti, sekolah dilindas, jalan keluar dan masuk diblokade duri dan laras panjang. Bebaskan mereka dari pengekangan. Beritahukan pada semua orang agar bisa menyuarakan hal yang sama dengan kita.
Bergabunglah dengan barisan ini. Demi kemanusiaan yang adil dan beradab. Menghapuskan segala penjajahan di atas dunia. Meratakan Hak Asasi ke setiap penjuru bumi.
Semoga Tuhan menolong kita semua.
-Phenomedianet
Syarat:
-Diketik di Ms. World 2007 -Margin normal, Font TNR, 12, A4, spasi 1 -Berbentuk bebas. Cerpen, artikel, dll. -Pemakain bahasa yang tidak kaku -Hindari diksi berat, kiasan keilmuan yang rumit. Utamakan kalimat langsung yang bisa dimengerti dengan mudah oleh semua golongan.
-Maksimal 1 lembar A4. -Sertakan identitas diri, dan nomer kontak di dalam lembar naskah. Termasuk email aktif, bio singkat,  dan link media sosial jika ada. -Setuju pada ketentuan bahwa 100% royalti buku untuk Palestina. -Naskah dikirim langsung ke email (berupa lampiran): eventforgaza@gmail.com dengan subjek “Event 1”.
-Bagikan info ini di beranda, dan tag minimal 5 orang.
-Sebelum mengerjakan naskah event, wajib membaca 2 artikel wajib di:
1.  https://www.facebook.com/MCIslam/posts/1043718838998466
Dan
2. https://web.facebook.com/MCIslam/photos/a.496265593743796.1073741828.496253903744965/1044448022258881/?type=3
Penghargaan:
-Sertifikat cetak untuk semua kontributor.
-Jika target PO tercapai yaitu setidaknya 100 buku terjual atau setengahnya dari itu, setiap kontributor mendapatkan 1 bukti cetak buku gratis ditambah ongkir ke kota-kota besar. Maka dari itu, diharapkan peserta ikut serta menyebarkan info PO Buku ini yang akan dimulai selama satu bulan, bersamaan dengan event ini dimulai.
Berikut artikel PO Buku Event ini: https://web.facebook.com/phenomedia/photos/a.1658786367744019.1073741828.1657124264576896/1740026092953379/?type=3
-Semoga Tuhan mencatat kebaikan kalian yang telah ikut serta event ini.
-Semoga doa-doa orang yang sedang dalam cobaan di sana mengalir kepada kita semua di bulan berkah bagi umat islam ini.
Awasi kami! Kawal kami!
Launching website tanggal: 15 Juni dengan domain (Phenomedianet com). Semua info akan diupdate di web dan page Phenomedianet. Kiranya jika boleh berharap tinggi, target penjualan buku event amal ini adalah 10 ribu buah. Maka kita semua akan menyerahkan uang sumbangan pada organisasi amal yang sudah kami pilih dengan penuh pertimbangan matang, sebesar 100 juta. Adalah Sahabat Al Aqsha. Bisa kalian bisa cek reputasi mereka. Lalu jumlah buku setiap saat akan ikut disingkronkan di web dan page Phenomedianet.
Rangkaian agenda “For Palestina” ini tidak hanya satu kali. Phenomedianet berencana akan menyelenggarakan selama beberapa kali dalam periode 1 atau 2 tahun. Dan laporan setiap 3 bulan sekali bisa dibaca oleh semua orang.
Dan, kami ucapkan selamat berjuang untuk kita semua. Berjuang dalam rangkaian agenda “For Palestina”. Semoga Allah selalu bersama kita dalam langkah ini. Semoga.
Detail penting:
Periode event pertama: 1 Juni - 15 Juni.
Pengumuman: 17 Juni
Masa PO Buku pertama: 1 Juni - 30 Juni (Selanjutnya ready stock. Bisa ditemukan di web atau facebook page)
Cetak pertama: 1 Juli
Harga buku: 35 ribu Temukan di sini: https://web.facebook.com/phenomedia/photos/a.1658786367744019.1073741828.1657124264576896/1740026092953379/?type=3
.
Contoh naskah: https://web.facebook.com/phenomedia/posts/1740704749552180
.
Regrads
Phenomedianet

Jumat, 22 April 2016

Terkadang Jenuh

23 April 2016

Hey, gue kembali dengan segala curhatan nggak penting yang nyatanya nggak akan menguntungkan kalau lo baca. Tapi gue tetap akan menulis.

Entah kenapa, gue ngerasa jenuh. Yup, gue jenuh dengan semua hal yang gue jalani. Gue jenuh ketika gue harus menjalani perkuliahan gue, gue jenuh dengan tugas-tugas gue, gue jenuh dengan segala jenis tekanan yang buat gue nggak bisa berdiri lagi. Rasa jenuh ini sering banget gue rasain (dulu) dan dengan hebatnya gue bisa bangkit hanya dengan melihat senyum kedua orangtua gue. Tapi untuk saat-saat ini, gue gagal. Gue gagal buat kembali semangat menjalani perkuliahan gue.

Bosan. Ketika sadar kalau sistem pendidikan kita itu makin nggak jelas. Mana ada orang yang kuliah dari pagi sampai sore dan itu hanya satu mata kuliah. Mana ada orang yang kuliah 1 sks tapi tugasnya udah kayak 4 sks. Gue bosan kalau tiap hari ketemu nya sama kuliah yang sama tiap harinya.

Lelah. Udah pasti gue lelah. Bayangi, waktu gue bisa tenang itu hanya di malam hari, itupun nggak bisa di bilang tenang sebenarnya. Gue masih harus menyelesaikan tugas yang gue bawa pulang seperti biasa. Atau paling enggak, gue hanya bisa menikmati 3 jam waktu untuk tidur, sejam waktu untuk meluangkan hobby dan selebihnya? Who knows?

Sedih. Kalau yang ini gue nggak bisa jelasin kenapa gue ngerasa sedih. Gue cuman lagi nggak bisa mengontrol perasaan gue. Anggaplah gue baperan, whatever. Perasaan gue mulai ke ganggu semenjak gue dengan iklasnya mencari teman teraman di sini. ��

And then, gue cuman mau bilang, gue nggak peduli sama dunia gue yang saat ini. Dunia penuh tekanan ��

Sabtu, 09 April 2016

Hati yang Berubah

Lagi.
Untuk kesekian kalinya, gue hanya mampu menatap gadis itu dari kejauhan. Gadis dengan kunciran kuda dan wajah polos tanpa alas make up seperti gadis yang lainnya. Gadis yang hanya akan dulu di baris keempat dari depan sisi tengah altar gereja. Gadis yang selalu mencuri perhatian yang gue miliki. Sepenuhnya hanya untuk melihatnya barang sedetik.

Gadis itu tak pernah absen dalam setiap ibadah. Layaknya gadis baik-baik yang selalu menyediakan sedikit waktunya untuk menyapa Sang Penciptanya. Namanya Clarrisha Ananda Putri. Nama yang beberapa bulan ini sukses buat gue nggak bisa meninggalkan kegiatan gue sebagai musisi di gereja. Nama yang akhirnya buat gue selalu diam tanpa kata ketika senyumnya terukir dengan jelas.

"Huh, gue di anggurin."

Gue menoleh pada gadis tempramen di sebelah gue. Gadis yang setia menemani gue dalam suka dan duka di kehidupan gue. Sepupunya Icha -sapaan akrabnya.

"Apasih, Na?" Gue nggak bisa membohongi perasaan gue terhadap gadis ini. "Gue nggak nganggurin lo, loh."

"Apaan?" bantahnya sambil memanyunkan bibirnya. "Lo kalau naksir Icha bilang aja. Ntar gue yang comblangin, deh."

Gue menggeleng. "Nggak perlu, Na. Gue akan berjuang sendiri untuk sepupu lo. Asal lo nggak cemburu aja." Goda gue sambil mencolek dagunya

"Cemburu itu pasti. Tapi kalau hati lo udah tertuju sama dia, gue bisa apa? Cinta gue yang datang terlambat untuk menghampiri hati lo. Jadi lo nggak salah,"

Ya, gue sempat menyukai Mariana sebelum gue menyadari bahwa gue mencintai Clarrisha.

The End

Selasa, 08 Maret 2016

FILOSOFI API-AIR

“Lo tau api kan, Nov? Api itu akan membakar apapun yang ada di sekitarnya. Nggak peduli entah dia siapa, entah dia seperti apa, tapi yang jelas api akan selalu memusnahkan apa yang bisa ia musnakan. Seperti itu jugalah dia. Dan saat-saat seperti ini, seharusnya lo butuh orang lain yang mampu membantu lo untuk bangkit. Seseorang yang kelak akan mengingatkan lo bahwa dia itu api. Api yang hampir aja membunuh gue, Widya, Juraida, dan Lidiya. Makanya gue minta, lo jangan terpaku sama api tapi cari air untuk lo bisa menyelamatkan gue dan yang lainnya. Air yang nantinya akan menghentikan semua hal yang akan di musnahkan si Api.”

Ucapan itu masih terngiang-ngiang di pikiran gue. Suara memelas yang penuh emosi dari teman masa kecil gue. Orang yang udah gue anggap seperti saudara. Adik kecil gue.
Entah untuk alasan apa, gue sendiri nggak tahu. Permasalahan yang kita hadapi saat ini benar-benar runyam. Persahabatan gue emang nggak hancur berantakan tapi hati gue yang akhirnya hancur berkeping-keping. Keputusan gue untuk menjaga persahabatan ini ketimbang gue harus memilih dia adalah hal paling menyedihkan. Kenapa gue harus memilih antara orang-orang yang udah gue kenal sejak lama jauh sebelum gue mengenal dia atau gue harus memilih dia yang bahkan pertemuan kita sendiri adalah sebuah masalah.
Pertemuan kita memang masalah. Itu juga Tika –teman masa kecil gue- yang bilang sendiri. Dia bilang bahwa gue bukan orang yang pantas untuk bisa di dapatkan oleh orang seperti dia. Gue masih ingat ketika pertama kali gue memutuskan untuk jujur sama Tika. Gue jujur kalau saat itu gue lagi dekat sama seseorang. Awalnya Tika antusias. Dia meminta gue buat cerita dari awal perkenalan gue sama pria bernama lengkap Jonathan Hirawan itu. Tapi nggak sampai akhir, dia justru marah. Dia bilang kalau logika gue udah nggak gue pake lagi. Gue udah buta sama yang namanya cinta.
Dan karena itu gue nggak akan mengecewakan Tika untuk kedua kalinya. Cukup sekali gue keras kepala dan nggak mendengarkan ucapan dia yang dulu gue anggap sebagai lelucon.
Tapi gue juga bukan orang munafik yang bisa teriak dengan lantang sambil mengatakan bahwa gue udah bisa move on dari si manusia bangsat itu. Dia pacar pertama gue walaupun sebenarnya dia bukan cinta pertama gue. Intinya tetap sama, gue belum bisa menerima keadaan ini. Keadaan di mana gue mulai sayang sama dia bahkan sebelum gue memutuskan untuk menerima dia masuk ke dalam kehidupan gue. Bayangin aja gue sama Joo udah hampir kenal sekitar 13 bulan; 8 bulan pendekatan dan 5 bulan pacaran, apa mungkin gue sanggup untuk melupakan dia? Apa mungkin gue bisa dengan mudahnya berdiri di atas kaki gue sendiri tanpa seharipun memikirkan dia?
“Masih dengan masalah yang sama?” Suara lembut yang sangat gue kenali. Gue berbalik dan mendapati Melsy sedang berjalan menuju arah gue. Dia masih berkutat sama diktat tebal yang sehari-harinya bakalan selalu dia bawa-bawa kemanapun dia pergi. “Kakak lucu ya?”
“Lucu?” Ulang gue bingung
Melsy mengangguk. Dengan cekatan dia menghampiri gue sambil menduduki bangku kosong di sebelah gue. Manik matanya yang kecokelatan mengelilingi sekitaran kampus. Seolah sedang mencari sesuatu dari hamparan tanaman hijau di sekitar kita. “Kenapa sih kakak sulit untuk bangkit dari si mantan? Apa mempercayai ucapan ‘Ibu Psikolog’ kita adalah sebuah dosa?”
“Karena dia belum menemukan air seperti yang gue minta,” serbu Tika yang juga muncul dari tempat Melsy tadi terlihat. Sayup matanya menandakan kelelahan yang amat sangat melanda dirinya. Kadang gue mikir sih, apa mungkin beban yang ia tanggung sebagai mahasiswi psikologi seberat itu? “Dan ralat yah bocah, gue ini masih ilmuwan psikologi bukan psikolog. Ah, nggak terbayang deh kalau gue mesti lanjut gue demi mendapatkan gelas psikolog. Bisa kayak zombie gue lama-lama,”
“Pasti bisa. Buktinya kakak udah ngelewatin hampir 2 tahun buat mendapatkan gelar ilmuwan psikologi. Yah, kan?”
“Halah, bising lo!”
“Filosofi gue tentang api dan air itu nggak main-main loh, Nov. Gue nggak akan menjerumuskan lo ke tempat yang salah. Lo nggak bisa memilih untuk tetap stay di sini sambil memikirkan orang yang salah. Lo masih butuh hidup. Lo masih butuh jiwa lo yang sempat hilang,” lanjut Tika kali ini menatap gue dengan sangat memohon. Melalui matanya gue bisa mendapatkan ketulusan di sana. Bahwa dia memang nggak akan menjerumuskan gue pada penderitaan. Dia ingin gue bahagia.
“Iya, Tika. Gue lagi berusaha kok buat nggak ngecewaian lo lagi. Gue lagi berusaha buat mengambil jiwa gue yang sempat hilang karena perbuatan si api. Dan gue nggak akan jalan di tempat seolah gue lagi menunggu si api,” jawab gue nurut. Gue menghelakan nafas gue sebentar. “Tapi gue mohon, untuk saat ini lo jangan nyuruh gue buat mencari air untuk memadamkan api. Gue belum bisa mendapatkan air dengan alasan semacam ini. Terlalu kejam kalau gue memanfaatkan posisi air hanya untuk memusnahkan si api.”
Ya, gue belum sanggup untuk mencari air dengan tujuan memadamkan api tersebut karena ternyata ingatan gue tentang api masih tetap melekat hingga detik ini.


THE END

Kamis, 18 Februari 2016

Real Friend or Fake Friend?

Hai. I'll back.
Kali ini gue lagi mau bahas tentang teman yang benar-benar teman sama teman yang hanya sebatas teman. Real friend? Or Fake friend?

Sebenarnya kalau boleh jujur, gue bukan orang yang mudah mengadaptasikan diri gue terhadap orang-orang asing yang mencoba masuk ke kehidupan gue. Gue juga bukan orang yang dengan terbukanya bisa menunjukkan jati diri gue. Gue emang bicara sama orang tapi bukan orang asing yang berada di luar dari ruang lingkup gue. Maksudnya gimana ya? Susah buat menjelaskan diri gue sebagai seorang cewek heboh sana sisi, wara wiri sesuka hati, tapi punya sisi pendiam yang kadang nggak seorang bisa ngerti perasaan gue.

Kalau bicara soal fake friend, gue nggak perlu banyak komentar. Hidup kita emang harus ketemu sama orang-orang kayak mereka. Ada saat senang tapi untuk susah, mereka bakalan jarang ada di sisi kita. Mereka kayak orang yang nggak punya kepribadian gitu. Mereka akan menganggap kita sahanat di kala butuh dan musuh di kala dia nggak butuh. Seperti yang teman gue rasakan.

Sebut saja namanya Intan. Entah gue berasa jahat karena udah nulis ini atau enggak, tapi gue cuman mau beri pelajaran aja sama yang lain atas pengalaman kita. Biar kalian semua nggak terjebak lagi sama yang namanya Fake Friend. Biar kalian juga bisa menempatkan diri dengan benar.

Back to Intan. Gue nggak tau apa yang terjadi sama dia, cuman ya gitu. Beberapa hari ini, keadaan dia benar-benar di luar kendali dia. Sakit komplikasi kalau kata kunyuk gue. Dia pingsan hampir di setiap perkuliahan baik dalam jam kuliah atau pas istirahat.

Ceritanya sih gini, dia udah pingsan tuh kan pas istirahat makan dia. Kirain dia udah sehat pas dia balik lagi ke kampus. Eh, pas pulang ngampus, selesai gue dapat surprise dari Kelompok Kecil, dia sakit lagi. Mau nggak mau, suka nggak suka, gue sama dua kunyuk plus Bodats kesayangan gue nemani dialah karena dia nggak ada teman. Dan kalian tau, kedua teman yang selalu dia sebut sahabat adalah orang yang akhirnya meninggalkan dia di saat dia belum sehat. Sedangkan kita -yang bukan teman dia- setia mendampingi dia sampai orangtuanya menjemput.

Dari kejadian tersebut, gue sadar satu hal : Bahwa teman yang benar-benar teman adalah mereka yang ada saat suka maupun duka kita. Dan beruntung gue dapat teman yang seperti itu. Teman yang nggak hanya sebatas teman. Kita klop tapi kita nggak mencap dia milik kita.

Seperti kata bodats, "Dia, orang yang kita anggap teman atau sahabat bukanlah hak milik kita. Bahwa dia juga punya orang lain."

So, jangan jadikan teman kita itu hak milik, jangan jaim, tunjukkan kamu yang sesungguhnya seperti apa. Karena teman yang baik akan menerima kamu apa adanya bukan ada apanya.

Sampai jumpa di catatan selanjutnya.
Bye

Rabu, 27 Januari 2016

Menulis sebagai Hobby atau Cita-cita?

Ada banyak sekali orang yang penasaran kenapa gue suka menulis. Mereka berpendapat bahwa orang yang sehari-harinya nggak pernah bisa diam sedetik saja ini bisa menyukai hal berbau sastra. Bahkan mereka sempat mengatakan bahwa gue salah jurusan atau gue salah cita-cita.

Gue bilang enggak. Gue nggak salah jurusan atau gue nggak salah cita-cita.

Gue emang suka nulis. Tapi pernah dengar nggak sih orang-orang bilang kalau nulis itu hanya sebatas hobby? Dan gue beranggapan yang sama. Gue nggak berharap kalau suatu hari nanti gue akan menjadi penulis. Oh, bukan berarti gue nggak pernah ngebayangi gue akan menjadi seorang penulis kelak. Maksudnya gini, seorang yang suka menulis pasti akan pernah berpikir atau berkhayal dia akan menjadi seorang penulis. Tapi masih dalam tahap yang sewajarnya.

Banyak kok orang-orang yang suka nulis (sebut aja Author ya) berasal dari jurusan yang aneh-aneh. Seperti kenalan gue. Dia lulus sebagai sarjana pendidikan dengan bidang studi nya Matematika. Kalian bayangin aja, matematika sama nulis, apa nyambungnya? Nggak ada kan? Atau bahkan seorang mahasiswa jurusan Akuntansi lebih sering menghabiskan waktunya pada laptop ketimbang buku hitung-hitungannya. Yah, nggak ada yang salah dong?

Kita suka nulis dan kita enjoy dengan pendidikan kita. Selama itu bukan jadi halangan kita.

Nah, gue akan menjelaskan kenapa kita suka sama yang namanya nulis.

1. Mengenang
    Paling banter alasan pertama gue suka nulis yah ini. Gue bisa mengenang sesuatu dari tulisan gue. Kayak buku diary, nah gue mencurahkan segala kejadian yang sepatutnya untuk gue curahkan ke dalam cerita. Gue pengen punya buku legenda yang nyata. Buku yang kelak nanti anak-anak gue atau bahkan cucu gue bakalan bilang "Oh, ternyata nenek/buyut gue pernah ngelakuin hal sekonyol ini?" atau "Sebegitu menyedihkannya kah kenangan yang dia punya?". Yah setidaknya, gue masih bisa ninggalin sedikit jejak buat mereka.

2. Kesenangan
    Nulis itu random. Kadang kita juga random kok. Percaya nggak kalau orang-orang yang suka nulis itu suka bertingkah aneh yang kalian nggak ngerti akan apa yang dia perbuat. Yah, itu keunikan kita. Kita senang-senang aja hidup berkhayal. Menentukan takdir kita seperti apa, menceritakan kita bagaimana yang sebenarnya semua tokoh itu menceritakan tentang kita. Kalau dunia nggak bisa memberi kesenangan buat gue, maka menulis adalah jawabannya.

3. Menulis itu jiwa
    Kalian pasti punya hobby yang kalian anggap udah kayak jiwa kalian kan? Nah, iya. Gue juga gitu, Nulis itu jiwa kedua gue. Dia kayak pengasuh di kala gue mulai jenuh aja. Dia ngerti gue sebagaimana dia menjadi teman buat gue. Makanya dia jiwa yang nggak akan bisa gue lepas sekalipun gue ngalamin masa-masa jadi WB (Write Block's).

Itu sih alasan yang buat gue suka nulis. Hanya itu.

Bhay.
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.