Jumat, 22 April 2016

Terkadang Jenuh

23 April 2016

Hey, gue kembali dengan segala curhatan nggak penting yang nyatanya nggak akan menguntungkan kalau lo baca. Tapi gue tetap akan menulis.

Entah kenapa, gue ngerasa jenuh. Yup, gue jenuh dengan semua hal yang gue jalani. Gue jenuh ketika gue harus menjalani perkuliahan gue, gue jenuh dengan tugas-tugas gue, gue jenuh dengan segala jenis tekanan yang buat gue nggak bisa berdiri lagi. Rasa jenuh ini sering banget gue rasain (dulu) dan dengan hebatnya gue bisa bangkit hanya dengan melihat senyum kedua orangtua gue. Tapi untuk saat-saat ini, gue gagal. Gue gagal buat kembali semangat menjalani perkuliahan gue.

Bosan. Ketika sadar kalau sistem pendidikan kita itu makin nggak jelas. Mana ada orang yang kuliah dari pagi sampai sore dan itu hanya satu mata kuliah. Mana ada orang yang kuliah 1 sks tapi tugasnya udah kayak 4 sks. Gue bosan kalau tiap hari ketemu nya sama kuliah yang sama tiap harinya.

Lelah. Udah pasti gue lelah. Bayangi, waktu gue bisa tenang itu hanya di malam hari, itupun nggak bisa di bilang tenang sebenarnya. Gue masih harus menyelesaikan tugas yang gue bawa pulang seperti biasa. Atau paling enggak, gue hanya bisa menikmati 3 jam waktu untuk tidur, sejam waktu untuk meluangkan hobby dan selebihnya? Who knows?

Sedih. Kalau yang ini gue nggak bisa jelasin kenapa gue ngerasa sedih. Gue cuman lagi nggak bisa mengontrol perasaan gue. Anggaplah gue baperan, whatever. Perasaan gue mulai ke ganggu semenjak gue dengan iklasnya mencari teman teraman di sini. ��

And then, gue cuman mau bilang, gue nggak peduli sama dunia gue yang saat ini. Dunia penuh tekanan ��

Sabtu, 09 April 2016

Hati yang Berubah

Lagi.
Untuk kesekian kalinya, gue hanya mampu menatap gadis itu dari kejauhan. Gadis dengan kunciran kuda dan wajah polos tanpa alas make up seperti gadis yang lainnya. Gadis yang hanya akan dulu di baris keempat dari depan sisi tengah altar gereja. Gadis yang selalu mencuri perhatian yang gue miliki. Sepenuhnya hanya untuk melihatnya barang sedetik.

Gadis itu tak pernah absen dalam setiap ibadah. Layaknya gadis baik-baik yang selalu menyediakan sedikit waktunya untuk menyapa Sang Penciptanya. Namanya Clarrisha Ananda Putri. Nama yang beberapa bulan ini sukses buat gue nggak bisa meninggalkan kegiatan gue sebagai musisi di gereja. Nama yang akhirnya buat gue selalu diam tanpa kata ketika senyumnya terukir dengan jelas.

"Huh, gue di anggurin."

Gue menoleh pada gadis tempramen di sebelah gue. Gadis yang setia menemani gue dalam suka dan duka di kehidupan gue. Sepupunya Icha -sapaan akrabnya.

"Apasih, Na?" Gue nggak bisa membohongi perasaan gue terhadap gadis ini. "Gue nggak nganggurin lo, loh."

"Apaan?" bantahnya sambil memanyunkan bibirnya. "Lo kalau naksir Icha bilang aja. Ntar gue yang comblangin, deh."

Gue menggeleng. "Nggak perlu, Na. Gue akan berjuang sendiri untuk sepupu lo. Asal lo nggak cemburu aja." Goda gue sambil mencolek dagunya

"Cemburu itu pasti. Tapi kalau hati lo udah tertuju sama dia, gue bisa apa? Cinta gue yang datang terlambat untuk menghampiri hati lo. Jadi lo nggak salah,"

Ya, gue sempat menyukai Mariana sebelum gue menyadari bahwa gue mencintai Clarrisha.

The End