Selasa, 08 Maret 2016

FILOSOFI API-AIR

“Lo tau api kan, Nov? Api itu akan membakar apapun yang ada di sekitarnya. Nggak peduli entah dia siapa, entah dia seperti apa, tapi yang jelas api akan selalu memusnahkan apa yang bisa ia musnakan. Seperti itu jugalah dia. Dan saat-saat seperti ini, seharusnya lo butuh orang lain yang mampu membantu lo untuk bangkit. Seseorang yang kelak akan mengingatkan lo bahwa dia itu api. Api yang hampir aja membunuh gue, Widya, Juraida, dan Lidiya. Makanya gue minta, lo jangan terpaku sama api tapi cari air untuk lo bisa menyelamatkan gue dan yang lainnya. Air yang nantinya akan menghentikan semua hal yang akan di musnahkan si Api.”

Ucapan itu masih terngiang-ngiang di pikiran gue. Suara memelas yang penuh emosi dari teman masa kecil gue. Orang yang udah gue anggap seperti saudara. Adik kecil gue.
Entah untuk alasan apa, gue sendiri nggak tahu. Permasalahan yang kita hadapi saat ini benar-benar runyam. Persahabatan gue emang nggak hancur berantakan tapi hati gue yang akhirnya hancur berkeping-keping. Keputusan gue untuk menjaga persahabatan ini ketimbang gue harus memilih dia adalah hal paling menyedihkan. Kenapa gue harus memilih antara orang-orang yang udah gue kenal sejak lama jauh sebelum gue mengenal dia atau gue harus memilih dia yang bahkan pertemuan kita sendiri adalah sebuah masalah.
Pertemuan kita memang masalah. Itu juga Tika –teman masa kecil gue- yang bilang sendiri. Dia bilang bahwa gue bukan orang yang pantas untuk bisa di dapatkan oleh orang seperti dia. Gue masih ingat ketika pertama kali gue memutuskan untuk jujur sama Tika. Gue jujur kalau saat itu gue lagi dekat sama seseorang. Awalnya Tika antusias. Dia meminta gue buat cerita dari awal perkenalan gue sama pria bernama lengkap Jonathan Hirawan itu. Tapi nggak sampai akhir, dia justru marah. Dia bilang kalau logika gue udah nggak gue pake lagi. Gue udah buta sama yang namanya cinta.
Dan karena itu gue nggak akan mengecewakan Tika untuk kedua kalinya. Cukup sekali gue keras kepala dan nggak mendengarkan ucapan dia yang dulu gue anggap sebagai lelucon.
Tapi gue juga bukan orang munafik yang bisa teriak dengan lantang sambil mengatakan bahwa gue udah bisa move on dari si manusia bangsat itu. Dia pacar pertama gue walaupun sebenarnya dia bukan cinta pertama gue. Intinya tetap sama, gue belum bisa menerima keadaan ini. Keadaan di mana gue mulai sayang sama dia bahkan sebelum gue memutuskan untuk menerima dia masuk ke dalam kehidupan gue. Bayangin aja gue sama Joo udah hampir kenal sekitar 13 bulan; 8 bulan pendekatan dan 5 bulan pacaran, apa mungkin gue sanggup untuk melupakan dia? Apa mungkin gue bisa dengan mudahnya berdiri di atas kaki gue sendiri tanpa seharipun memikirkan dia?
“Masih dengan masalah yang sama?” Suara lembut yang sangat gue kenali. Gue berbalik dan mendapati Melsy sedang berjalan menuju arah gue. Dia masih berkutat sama diktat tebal yang sehari-harinya bakalan selalu dia bawa-bawa kemanapun dia pergi. “Kakak lucu ya?”
“Lucu?” Ulang gue bingung
Melsy mengangguk. Dengan cekatan dia menghampiri gue sambil menduduki bangku kosong di sebelah gue. Manik matanya yang kecokelatan mengelilingi sekitaran kampus. Seolah sedang mencari sesuatu dari hamparan tanaman hijau di sekitar kita. “Kenapa sih kakak sulit untuk bangkit dari si mantan? Apa mempercayai ucapan ‘Ibu Psikolog’ kita adalah sebuah dosa?”
“Karena dia belum menemukan air seperti yang gue minta,” serbu Tika yang juga muncul dari tempat Melsy tadi terlihat. Sayup matanya menandakan kelelahan yang amat sangat melanda dirinya. Kadang gue mikir sih, apa mungkin beban yang ia tanggung sebagai mahasiswi psikologi seberat itu? “Dan ralat yah bocah, gue ini masih ilmuwan psikologi bukan psikolog. Ah, nggak terbayang deh kalau gue mesti lanjut gue demi mendapatkan gelas psikolog. Bisa kayak zombie gue lama-lama,”
“Pasti bisa. Buktinya kakak udah ngelewatin hampir 2 tahun buat mendapatkan gelar ilmuwan psikologi. Yah, kan?”
“Halah, bising lo!”
“Filosofi gue tentang api dan air itu nggak main-main loh, Nov. Gue nggak akan menjerumuskan lo ke tempat yang salah. Lo nggak bisa memilih untuk tetap stay di sini sambil memikirkan orang yang salah. Lo masih butuh hidup. Lo masih butuh jiwa lo yang sempat hilang,” lanjut Tika kali ini menatap gue dengan sangat memohon. Melalui matanya gue bisa mendapatkan ketulusan di sana. Bahwa dia memang nggak akan menjerumuskan gue pada penderitaan. Dia ingin gue bahagia.
“Iya, Tika. Gue lagi berusaha kok buat nggak ngecewaian lo lagi. Gue lagi berusaha buat mengambil jiwa gue yang sempat hilang karena perbuatan si api. Dan gue nggak akan jalan di tempat seolah gue lagi menunggu si api,” jawab gue nurut. Gue menghelakan nafas gue sebentar. “Tapi gue mohon, untuk saat ini lo jangan nyuruh gue buat mencari air untuk memadamkan api. Gue belum bisa mendapatkan air dengan alasan semacam ini. Terlalu kejam kalau gue memanfaatkan posisi air hanya untuk memusnahkan si api.”
Ya, gue belum sanggup untuk mencari air dengan tujuan memadamkan api tersebut karena ternyata ingatan gue tentang api masih tetap melekat hingga detik ini.


THE END