“Lo tau api kan, Nov?
Api itu akan membakar apapun yang ada di sekitarnya. Nggak peduli entah dia
siapa, entah dia seperti apa, tapi yang jelas api akan selalu memusnahkan apa
yang bisa ia musnakan. Seperti itu jugalah dia. Dan saat-saat seperti ini,
seharusnya lo butuh orang lain yang mampu membantu lo untuk bangkit. Seseorang
yang kelak akan mengingatkan lo bahwa dia itu api. Api yang hampir aja membunuh
gue, Widya, Juraida, dan Lidiya. Makanya gue minta, lo jangan terpaku sama api
tapi cari air untuk lo bisa menyelamatkan gue dan yang lainnya. Air yang
nantinya akan menghentikan semua hal yang akan di musnahkan si Api.”
Ucapan
itu masih terngiang-ngiang di pikiran gue. Suara memelas yang penuh emosi dari
teman masa kecil gue. Orang yang udah gue anggap seperti saudara. Adik kecil
gue.
Entah
untuk alasan apa, gue sendiri nggak tahu. Permasalahan yang kita hadapi saat
ini benar-benar runyam. Persahabatan gue emang nggak hancur berantakan tapi
hati gue yang akhirnya hancur berkeping-keping. Keputusan gue untuk menjaga
persahabatan ini ketimbang gue harus memilih dia adalah hal paling menyedihkan.
Kenapa gue harus memilih antara orang-orang yang udah gue kenal sejak lama jauh
sebelum gue mengenal dia atau gue harus memilih dia yang bahkan pertemuan kita
sendiri adalah sebuah masalah.
Pertemuan
kita memang masalah. Itu juga Tika –teman masa kecil gue- yang bilang sendiri. Dia
bilang bahwa gue bukan orang yang pantas untuk bisa di dapatkan oleh orang
seperti dia. Gue masih ingat ketika pertama kali gue memutuskan untuk jujur
sama Tika. Gue jujur kalau saat itu gue lagi dekat sama seseorang. Awalnya Tika
antusias. Dia meminta gue buat cerita dari awal perkenalan gue sama pria
bernama lengkap Jonathan Hirawan itu. Tapi nggak sampai akhir, dia justru
marah. Dia bilang kalau logika gue udah nggak gue pake lagi. Gue udah buta sama
yang namanya cinta.
Dan
karena itu gue nggak akan mengecewakan Tika untuk kedua kalinya. Cukup sekali
gue keras kepala dan nggak mendengarkan ucapan dia yang dulu gue anggap sebagai
lelucon.
Tapi
gue juga bukan orang munafik yang bisa teriak dengan lantang sambil mengatakan
bahwa gue udah bisa move on dari si
manusia bangsat itu. Dia pacar pertama gue walaupun sebenarnya dia bukan cinta
pertama gue. Intinya tetap sama, gue belum bisa menerima keadaan ini. Keadaan
di mana gue mulai sayang sama dia bahkan sebelum gue memutuskan untuk menerima
dia masuk ke dalam kehidupan gue. Bayangin aja gue sama Joo udah hampir kenal
sekitar 13 bulan; 8 bulan pendekatan dan 5 bulan pacaran, apa mungkin gue
sanggup untuk melupakan dia? Apa mungkin gue bisa dengan mudahnya berdiri di
atas kaki gue sendiri tanpa seharipun memikirkan dia?
“Masih
dengan masalah yang sama?” Suara lembut yang sangat gue kenali. Gue berbalik dan
mendapati Melsy sedang berjalan menuju arah gue. Dia masih berkutat sama diktat
tebal yang sehari-harinya bakalan selalu dia bawa-bawa kemanapun dia pergi.
“Kakak lucu ya?”
“Lucu?”
Ulang gue bingung
Melsy
mengangguk. Dengan cekatan dia menghampiri gue sambil menduduki bangku kosong
di sebelah gue. Manik matanya yang kecokelatan mengelilingi sekitaran kampus.
Seolah sedang mencari sesuatu dari hamparan tanaman hijau di sekitar kita.
“Kenapa sih kakak sulit untuk bangkit dari si mantan? Apa mempercayai ucapan
‘Ibu Psikolog’ kita adalah sebuah dosa?”
“Karena
dia belum menemukan air seperti yang gue minta,” serbu Tika yang juga muncul
dari tempat Melsy tadi terlihat. Sayup matanya menandakan kelelahan yang amat
sangat melanda dirinya. Kadang gue mikir sih, apa mungkin beban yang ia
tanggung sebagai mahasiswi psikologi seberat itu? “Dan ralat yah bocah, gue ini
masih ilmuwan psikologi bukan psikolog. Ah, nggak terbayang deh kalau gue mesti
lanjut gue demi mendapatkan gelas psikolog. Bisa kayak zombie gue lama-lama,”
“Pasti
bisa. Buktinya kakak udah ngelewatin hampir 2 tahun buat mendapatkan gelar
ilmuwan psikologi. Yah, kan?”
“Halah,
bising lo!”
“Filosofi
gue tentang api dan air itu nggak main-main loh, Nov. Gue nggak akan
menjerumuskan lo ke tempat yang salah. Lo nggak bisa memilih untuk tetap stay di sini sambil memikirkan orang
yang salah. Lo masih butuh hidup. Lo masih butuh jiwa lo yang sempat hilang,”
lanjut Tika kali ini menatap gue dengan sangat memohon. Melalui matanya gue
bisa mendapatkan ketulusan di sana. Bahwa dia memang nggak akan menjerumuskan
gue pada penderitaan. Dia ingin gue bahagia.
“Iya,
Tika. Gue lagi berusaha kok buat nggak ngecewaian lo lagi. Gue lagi berusaha
buat mengambil jiwa gue yang sempat hilang karena perbuatan si api. Dan gue
nggak akan jalan di tempat seolah gue lagi menunggu si api,” jawab gue nurut.
Gue menghelakan nafas gue sebentar. “Tapi gue mohon, untuk saat ini lo jangan
nyuruh gue buat mencari air untuk memadamkan api. Gue belum bisa mendapatkan
air dengan alasan semacam ini. Terlalu kejam kalau gue memanfaatkan posisi air
hanya untuk memusnahkan si api.”
Ya,
gue belum sanggup untuk mencari air dengan tujuan memadamkan api tersebut
karena ternyata ingatan gue tentang api masih tetap melekat hingga detik ini.
THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar