Hari ini, satu masa di mana aku merasa bahwa Indonesiaku tak memiliki arah. Saat di mana aku melihat, kesalahan yang sama kembali terjadi. Indonesiaku tak belajar dari kegagalan. Mereka terus berjalan diantara para pemimpin yang haus akan jabatan. Mereka terus berlari mengejar mimpi fana yang menghantui langkahnya. Lalu bagaimana Indonesia bisa maju? Pantas saja Indonesiaku hanya berada di satu langkah yang sama. Langkah yang tak pernah berubah seiring aku berjalan mengikuti arus. Indonesiaku patut berduka. Berduka atas hukum yang kian hari semakin membingungkan. Hukum yang kian hari semakin menutup pintu kebenaran.
Aku bukan terlahir sebagai anak Hukum bukan juga anak yang terlalu mengerti tentang politik, tapi aku pernah belajar tentang itu semua. Pernah belajar dan akhirnya mengerti mengapa aku harusnya belajar tentang itu. Tapi sepertinya sekarang pelajaran itu menjadi sia-sia. Bhinekka Tunggal Ika, Kewarganegaraan, Pancasila kita, perundang-undangan kita, semua terasa sia-sia. Bahkan aku merasa bodoh telah mempelajarinya selama ini. Toh, Indonesia secara perlahan dan pasti mulai mengaburkan setiap pemahamanku.
Dimulai dari kisah seorang pemimpin hebat yang sukses di negeri orang hingga akhirnya seorang pemimpin baru yang lahir hanya dengan memikirkan kemajuan negerinya. Tapi keduanya sama. Sama-sama tak dihargai di negerinya sendiri. Ditindas, diperlakukan tidak adil, dan dipandang remeh hanya karena sebuah perbedaan. Toh, Indonesia tetap diam dan tak belajar dari kesalahannya.
Aku bangga. Setidaknya walaupun aku tak pernah merasakan masa kepemerintahannya dan aku bukan anak Jakarta, tapi aku bangga. Aku bangga pernah mengenalnya melalui ribuan berita yang mengangkat namanya. Caranya memimpin sungguh unik, dan terlebih, ia tak memimpin untuk meraup kesenangan atas dirinya sendiri. Ia memikirkan rakyatnya, orang asing yang mempertaruhkan hak pilihnya untuk mendapatkan perhatian. Ia memikirkan rakyatnya yang terus menghinanya walau apa yang ia lakukan bukan untuk kepentingannya sendiri. Ia, pemimpin yang membuatku merasa bangga.
Pernahkah kalian berpikir bahwa itu terlalu berlebihan? Hanya karena persepsi orang yang berbeda, ia menanggung beban begitu berat. Hanya karena nyatanya ia ingin menyadarkan orang lain tapi justru ia yang disadarkan bahwa percuma untuk melakukan hal itu. Hanya karena ia kaum minoritas yang punya prestasi banyak dan berkelas dan akhirnya menyemburkan rasa dengki dari pemimpin yang haus akan jabatan.
Kalau aku boleh jujur, ada masalah yang lebih besar yang harus kalian pecahkan selain mempermasalahkan sesuatu yang kalian buat-buat sendiri. Mayoritas merasa mereka terusik oleh ucapannya, lalu bagaimana kaum minoritas yang juga mendapatkan perlakuan sama? Apa kalian menindaklanjutkannya? Atau kalian diam dan hanya memandang dalam senyum kulum penuh ejek? Entahlah. Aku rasa kalian perlu mempertimbangkannya. Jika hukum tidak bisa ditegakkan, maka jangan salahkan kami jika suatu hari nanti Indonesia menjadi negeri yang penuh dengan kejahatan. Karena Indonesia sudah jahat dengan cara yang seperti ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar